- Pada 30-10-2025 02:06:09
Menyikapi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai kawan atau sebagai lawan adalah pilihan. Perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, namun harus pandai-pandai memanfaatkannya. Untuk itu posisikan AI hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusianya, sebab kekuatan dan kemampuan sejati ada pada diri sendiri. Demikian mengemuka pada Kuliah Umum Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Akbidyo tahun akademik 2025/2026, Kamis (30/10/2025), di Prambanan Ballroom Hotel Cavinton Yogyakarta.
Kuliah umum bertema “Integrasi Teknologi Digital dan AI dalam Pendidikan serta Pelayanan Kesehatan” itu diikuti mahasiswa dari seluruh program studi, yaitu D3 Kebidanan, D4 Manajemen Informasi Kesehatan (Rekam Medis), S1 Farmasi, serta S1 Kebidanan-Pendidikan Profesi Bidan.Hadir sebagai pembicara, Direktur Program Pascasarjana Universitas Amikom Yogya Prof Kusrini MKom PhD dan Microsoft MVP on AI Agus Suparno SSi MEng dengan moderator Dr Nining Tunggal SS MPH.Prof Kusrini menegaskan, pada era revolusi industri 4.0 sekarang terjadi perubahan besar teknologi digital, sehingga keberadaan AI tidak bisa dihindari.
AI adalah kecerdasan buatan yang memungkinkan mesin dan komputer meniru kemampuan kognitif manusia seperti, belajar, memecahkan masalah, membuat keputusan dan memahami bahasa. AI memanfaatkan data untuk mengidentifikasi pola, membuat prediksi dan melakukan tugas-tugas kompleks secara otonom. Tujuannya, untuk membantu pekerjaan, meningkatkan efisiensi dan mempermudah berbagai aspek kehidupan.
"Orang yang tidak mau berubah mengikuti perkembangan teknologi akan terpinggirkan," tegasnya.Menurut Prof Kusrini, pemanfaatan AI di bidang kesehatan merupakan keniscayaan yang tak mungkin dihindari. Sejak era pandemi teknologi di bidang kesehatan mengalami perubahan signifikan. Hal itu menjadikan AI lazim diimplementasikan pada hampir seluruh disiplin ilmu bidang kesehatan.Dia mencontohkan sejumlah teknologi AI untuk bidang kesehatan dan sebagian di antaranya merupakan hasil penelitiannya. Misalnya, mesin learning sistem pakar kesehatan, Asesmen Geriatri Jarak Jauh, kursi roda SMATSI dan lain-lain.
Namun, Prof Kusrini mengingatkan, harus cermat dan hati-hati dalam mengimplementasikan AI di bidang kesehatan. Tetap harus kroscek ketika menggunakan AI. Dalam hal ini, penggunaan AI hanya sebagai alat bantu, bukan menjadi rujukan utama. "Kesalahan diagnosis menjadi tanggungjawab pengguna AI. Ingat, setiap inovasi pasti ada standarnya, ada referensinya," paparnya.Pada sesi tanya jawab, muncul beberapa pertanyaan menggelitik yang menjadi realita ironi di aktivitas akademik. Salah satu mahasiswa mengungkapkan keresahannya, demi menjaga 'kekritisannya' banyak mahasiswa termasuk dosen mengalami ketergantungan pada AI.
Contohnya pada forum ilmiah di kampus, mahasiswa yang bertanya menggunakan contekan dari AI. Demikian pula penyaji materi menjawab juga menggunakan materi dari AI. Celakanya, kadang jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan tetap disampaikan hanya karena hasil dari AI. Menanggapi hal itu, Agus Suparno mengingatkan agar memposisikan AI hanya sebagai alat bantu, untuk mencegah ketergantungan.Demi menghindari 'kelucuan' akademik terutama pada forum ilmiah, sebaiknya menerapkan aturan penggunaan AI sebelum mengadakan diskusi atau seminar di kampus.(*)
Sumber: https://www.krjogja.com/pendidikan/1246769799/kuliah-umum-stikes-akbidyo-hindari-ketergantungan-posisikan-ai-jadi-alat-bantu