AKBIDYO Jl. Parangtritis Km. 6, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Telp: (0274) 371345 Email: info@akbidyo.ac.id
Beranda | Mahasiswa

Minggu, 03 September 2017

Lulus Cumlaude D3 Kebidanan: Retno Pantang Menyerah dalam Keterbatasan

Ada ungkapan "gantungkan cita - citamu setinggi langit".  Realitanya untuk menggapainya bukan hal mudah. Seringkali harus menempuh jalan yang sulit, terjal dan berliku. Terlebih bagi orang yang kurang mampu secara ekonomi. Namun, berkat kegigihan bukan mustahil cita - cita tinggi itu bisa diraih.
Butuh waktu sekitar 7 tahun bagi Retno Puji Astuti untuk mewujudkan keinginan menjadi calon bidan . Terlahir dari  kedua orangtua yang tunanetra, Retno berhasil menyelesaikan studi D3 kebidanan dan lulus cumlaude dengan IPK 3,72.
Gadis dusun asal Botokan Jatirejo, Lendah Kulonprogo ini harus tertatih - tatih mewujudkan cita - cita menjadi seorang tenaga kesehatan. Kini, Retno telah menyandang gelar Ahli Madya Kebidanan, setelah lulus dari akbidyo (Sekarang STIKes Akbidyo).
Orangtuanya tidak menyangka anaknya bisa melanjutkan pendidikan meskipun tertunda beberapa tahun. Sang ayah, Wakijo (65 tahun) dan ibunya Suprihmulyani (66 tahun) tak henti mengucapkan syukur. "seperti mimpi rasanya, anak saya bisa seperti ini, tutur wakijo terbata - bata.
Pasangan tunanetra itu hidup pas- pasan.  Wakijo sehari - hari mencari nafkah sebagai tukang pijat, sedangkan istrinya ibu rumah tangga biasa. Meski dengan segala keterbatasan mereka berusaha menyekolahkan ketiga anaknya setinggi mungkin.
Dengan mata berkaca - kaca saat ditemui kamis (31/8) Retno menuturkan perjuangnya selama ini. sejak kecil ia sudah terbiasa mandiri, termasuk pelajaran sekolah karena sadar kedua orang tuanya tak bisa membantu memahami pelajaran yang sulit.
Beruntung Retno termasuk anak cerdas sehingga sejak SD hingga SMA mendapat beasiswa yang sebagian dia tabung. "Lulus SMA 2011 saya harus melupakan keinginan untuk kuliah kebidanan karena faktor ekonomi," tuturnya.
Tapi putri kedua dari tiga bersaudara ini tak lantas menyerah. Bermodal tabungan  sebagian beasiswa sejak SD, dia menempuh Prodi D1 Manajemen pada sebuah PTS di Yogya. Setelah lulus, merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah Klinik.
Setahun di Ibukota kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah sesuai keinginan awal. Apa hendak dikata uang tabungan belum cukup untuk kuliah kebidanan. Untuk menambah modal kuliah, ia kembali bekerja di sebuah persewaan mobil.
Beruntung, pada 2014 bertemu mantan guru SMA - nya.  Pertemuan itu mengubah sejarah hidupnya. Guru itu memotivasi untuk kuliah, karena eman -eman akan kemmapuan otak Retno. Diapun rela mengantarkan Retno ke Akbidyo.
Setelah melalui proses seleksi, gadis kelahiran 1992 ini diterima di Akbidyo dengan beasiswa penuh dari Yayasan Bhakti Sosial selaku pengelola PTS tersebut sampai lulus kuliah. Bahkan Retno mendapat fasilitas tempat tinggal di asrama. Malahan berkat prestasi lulus cumlaude, Retno langsung direkrut almamaternya menjadi staf Laboratorium.
" Saya sangat bersyukur atas kesempatan ini, saya buktikan dengan lulus tepat waktu" tuturnya.
Adik kandungnya juga kuliah di kampus yang sama dengan beasiswa Bidik Misi dari Ditjen Dikti Kemenristekdikti. Bila tak ada halangan, tahun depan adiknya juga akan diwisuda sebagai calon bidan. (Ben)-m


GALERI